Pasang Iklan

KALIMANTAN AKAN MERDEKA




Pernyataan mengejutkan dari mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Hendropriyono pada acara diskusi polemik bertajuk Mengungkap Eksistensi Separatisme di Menara Kebon Sirih, Jl Kebon Sirih, Jakarta, akhir pekan kemarin. Menurut analisis Hendropriyono, Kalimantan dalam kurun lima tahun mendatang bakal lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Lepasnya bumi Borneo dari Indonesia, kata Hendropriyono, akibat gerakan separatisme yang diyakininya bakal bertambah meluas, seperti yang terjadi di Papua. Dia memperkirakan Papua bakal menjadi wilayah kedua lepas dari NKRI setelah Timor Timur di era kepemimpinan Presiden BJ Habibie.

Analisis Hendropriyono itu dibenarkan Wakil Ketua Kelompok Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Kota Balikpapan Drs H Nursyamsa Hadis. Ia menegaskan, salah satu akar pemicu gerakan separatisme adalah ketidakadilan.“Prediksi Kalimantan pun akan bergolak, saya kira bukan isapan jempol. Rakyat Kalimantan sudah merasakan dengan nyata adanya eksploitasi sumber daya alamnya secara besar-besaran, tetapi mereka tetap berkubang pada ketertinggalan dari semua sektor,” kata Nursyamsa Hadis kepada Kaltim Post.

Dikatakannya, Kalimantan seperti juga Aceh atau Papua sebagai daerah yang relatif memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi dinamika pembangunan dari semua sektor sangat tertinggal jauh dengan daerah lainnya. Demikian pula yang dirasakan Riau yang kemudian telah mendeklarasikan keinginan untuk otonomi khusus (otsus).

“Pertanyaan mendasar dari rakyat adalah mengapa pemerintah pusat tidak mengupayakan dengan sungguh-sungguh kebutuhan dasar rakyat, padahal kekayaan yang tersedot dari bumi Kalimantan demikian melimpah,” tegasnya.

Mantan Ketua BIN Hendropriyono sebelumnya menegaskan, Papua sekarang ini sudah sangat siap lepas dari Indonesia. Tanda-tanda lepas dari Indonesia, kata dia, sudah sangat jelas. Mereka saat ini ditengarai sudah memiliki sponsor yang siap mendukung kemerdekaan wilayah di timur Indonesia ini.

"Mereka memiliki sponsor yang besar dan dana yang besar pula. Dana itu diperkirakan berasal dari dana otonomi khusus yang hingga saat ini tidak sampai pada masyarakat. Mungkin itu suatu faktor kesengajaan," ujarnya.

Menurutnya, gerakan separatisme ini sudah mulai terlihat di Timtim, Papua, Maluku, Kalimantan, dan Aceh sejak pertengahan 1980-an. "Para tokoh yang tidak puas dengan pemerintah pusat mulai mencari-cari sponsor di luar negeri. Dan jika pemerintah tidak mampu mengendalikan konflik di sana, tidak menutup kemungkinan 5 tahun lagi Borneo lepas," kata Hendro.

Sumber : Waspada Online



Menimbang Pilihan Separatis, Lima Tahun Lagi Kalimantan Merdeka



KabarIndonesia - GERAKAN separatis di negeri ini bak bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak. Sinyal gerakan makar yang belakangan ini membahana sebenarnya bukanlah baru. Gejolak aktivitas pemisahan wilayah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah ada sejak kemerdekaan diproklamirkan. Bahkan gerakannya kian meningkat sejak tahun 1950-an.

Gerakan Aceh Merdeka
(GAM), Republik Maluku Selatan (RMS), gerakan Papua Merdeka, adalah sebagian aktivitas separatis yang hingga kini masih menjadi momok bagi NKRI. Dan itu hanya sebagian kegiatan ‘perlawanan’ daerah yang tampak terekspose. Belum lagi isu beberapa daerah yang lain di negeri ini yang juga tampak berkeinginan mengibarkan ‘bendera merdeka’.

Keinginan memisahkan diri beberapa wilayah di negeri ini tampaknya tidak lagi bergerak di bawah tanah. Seperti yang terjadi, belum lama ini, pengibaran bendera Bintang Kejora dihadapan Presiden Bambang Yudhoyono di Ambon dalam tarian adat Maluku menunjukan bahwa gerakan pemisahan diri telah berani ‘unjuk gigi’.

Gerakan separatis yang terjadi beberapa wilayah di negeri ini memang tidak dapat dihindari begitu saja. Indonesia dengan realitas masyarakatnya yang plural serta heterogenitas suku bangsa, adat istiadat, bahasa, keyakinan, dan keanekaan identitas lainnya, adalah sesuatu yang memang berbeda. Apalagi memperhatikan tingkat kesenjangan sosial-ekonomi antara pusat dan daerah masih sangat jauh dari keadilan. Maka tidaklah mengherankan upaya separatis atau memisahkan wilayah dari NKRI oleh sebagian kelompok atau golongan menjadi pilihan.


Kalimantan Merdeka


Beberapa sinyal adanya bentuk perlawanan daerah terhadap pemerintah pusat juga terjadi (meski malu-malu) di Kalimantan Timur (Kaltim). Tidak saja karena soal upaya pencabutan Dana Alokasi Umum (DAU) oleh pemerintah pusat yang menjadi pemicunya. Tetapi juga menyangkut masih tertinggalnya pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Kaltim dipelbagai sektor.

Kendati perlawanan yang didengungkan hanya sebatas teriakan wacana otonomi khusus
(otsus). Bukan tidak menutup kemungkinan, tuntutan dapat lebih meluas mengarah pada gerakan Kaltim merdeka.

Adalah menarik jika diamati analisa Hendopriyono, dalam diskusi polemik: Mengungkap
Eksistensi Separatisme di Menara Kebon Sirih, Jl Kebon Sirih, Jakarta, belum lama ini, yang meyakini, bahwa gerakan seperatisme di Indonesia akan kian bertambah luas. Dikatakannya, gerakan separatisme di negeri ini sudah mulai terlihat di Papua, Maluku, Kalimantan, dan Aceh sejak pertengahan tahun 1980-an. Bahkan mantan Kepala Badan Intelijen Negera (BIN), itu, secara tegas pula menandaskan, Kalimantan sendiri dalam kurun lima tahun mendatang akan memisahkan diri dari NKRI.

Analisa Hendropriyono yang tampak mengejutkan itu memang bukan tidak mungkin terjadi. Apalagi Kalimantan yang terkenal melimpah SDA-nya, namun kontras dengan realitas pembangunan dan kesejahteraan masyarakatnya yang masih banyak tertinggal disegala sektor, sangat memungkinkan terjadinya pengibaran ‘bendera merdeka’ dan perlawanan Kalimantan terhadap pusat.

Mungkin kita masih ingat ketika awal reformasi, Kaltim pun pernah mendengungkan wacana negara federasi. Sebuah sistem negara bagian yang banyak dianut negara-negara tetangga
Indonesia, seperti Malaysia. Sistem itu juga diterapkan di negara bagian Amerika Serikat dan hasilnya cukup bagus. Namun wacana negara federasi itu kemudian tenggelam seiring berjalannya kebijakan otonomi daerah oleh pusat.

Koreksi untuk Pemerintah Pusat

Melihat geliat separatis seperti yang terjadi di Papua, Ambon ataupun di beberapa daerah lainnya di Indonesia bagian Timur tidaklah cukup dengan pendekatan persuasif ataupun konsensus nasionalisme. Pemerintah pusat harus lebih terbuka dan bijak melihat aspek kesejahteraan di daerah-daerah yang kaya dengan Sumber Daya Alamnya (SDA). Pincangnya program pembangunan nasional, khususnya di wilayah bagian timur Indonesia, termasuk di Kaltim, itulah yang seharusnya segera dibenahi pemerintah. Hal ini pula yang mendorong guncangan integrasi nasional di negeri ini.

Samuel Philips Huntington pernah meramalkan, Indonesia bisa menjadi negara pecah seperti yang pernah dialami Uni Soviet dan Yugoslavia. Dikatakannya, dua negera itu telah terberai karena kegagalan mengelola integrasi nasionalnya.

Pandangan
Huntington tersebut mungkin tidak terlalu berlebihan. Pemerintah memang sudah seharusnya menata konsep integrasi nasional. Tidaklah cukup jika integrasi nasional dimaknai sebagai kesatuan wilayah atau komunitas secara nasional yang terikat dengan prinsip-prinsip persatuan bangsa dan negara. Tapi yang juga harus diperhatikan oleh pemerintah pusat adalah pemerataan secara adil kekayaan negara, termasuk menyangkut kebijakan politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan pertahanan keamanan negera. Kita bisa melihat, betapa Papua, Kalimantan, Aceh, serta beberapa daerah timur lainnya yang melimpah SDA-nya masih tertinggal pembangunan dan kesejahteraan masyarakatnya.

Kebijakan pemerintah pusat yang dinilai kurang maksimal dalam menampung aspirasi daerah memang kerap menimbulkan kerawanan terhadap integrasi nasional. Bukan rahasia lagi, jika aksi
protes daerah seperti, pengibaran bendera Bintang Kejora di Papua, tuntutan otsus di Kaltim, serta beberapa daerah lainnya yang memiliki selera tuntutan yang sama, dikarenakan keputusan politik pusat yang masih berbau sentralisme.

Di sinilah
pemerintah pusat seharusnya bisa lebih berbenah dan mengoreksi kebijakannya. Sebab gejolak separatisme yang terjadi di negeri ini sebenarnya bukanlah pilihan atau gerakan untuk ‘melawan’ pusat dan anti NKRI. Tetapi munculnya aksi suara hendak merdeka itu dikarenakan ketimpangan kebijakan pusat serta distribusi ‘kue’ pembangunan yang tidak adil terhadap daerah-daerah kaya, termasuk Kaltim.



Sumber : www.kabarindonesia.com

Image : Google.com


Keyword

Kalimantan Akan Merdeka

Isu Kalimantan Akan Merdeka

Wacana Kalimantan Akan Merdeka

Kalimantan Akan Memisahkan Diri Dari Indonesia

Lima Tahun Lagi Kalimantan Akan Merdeka

Pernyataan Kalimantan Akan Merdeka

Labels: EQUATOR ONLINE

KALIMANTAN AKAN MERDEKA

Back To Top