BETAWI JAKARTA BERASAL DARI MELAYU SAMBAS




Program Acara televisi Mata Najwa, Metro TV . Dalam mengungkap Asal Usul Suku Betawi Jakarta Dan Bahasanya turut serta mengundang beberapa budayawan betawi diantaranya Adalah Abdul Chaer Dan JJ Rizal

Dalam Kesempatannya , Abdul Chaer yang juga salah satu pakar linguistik Indonesia mengungkap dialek Bahasa Betawi Jakarta adalah bahasa yang memiliki dialek yang sama dengan bahasa melayu sambas , Kalimantan Barat . Hal Itu dikarenakan karenakan karena pada perkembangan bahasa melayu meraih dominasi sebagai bahasa perdagangan dan juga dibenarkan dalam referensi (Masinambow dan Paul Henen, 2002: 15 juga Collins, 2005).

Munculnya abad ke-7 M , bahwa bahasa Melayu sudah berkembang jauh sebelum munculnya prasasti yang telah ditemukan di Nusantara . Dan Ada Juga referensi yang menyebutkan jika Suku betawi itu pada zaman dahulunya lahir akibat adanya perkawinan Silang Antara Melayu Sambas , Kalimantan Barat dan Bangsa Belanda yang setelah pernikahannya Hijrah kekota yang dulunya dikenal dengan sebutan batavia dan sekarang dikenal dengan nama Kota Jakarta .

Hal yang sama juga dikemukanan oleh Beberapa Budayawan Betawi yang mengakui hal tersebut , Dan besar kemungkinan jika suku Betawi Jakarta adalah keturunan dari suku melayu Sambas , Kalimantan Barat . Disamping hal tersebut , Suku Betawi juga mengalami perkembangan campuran asal usul akibat perkawinan silang keturunan dari beberapa suku lainnya yang ada di Indonesia .

Sebelumnya , Dibeberapa tayangan televisi Swasta seperti TV One juga pernah membedah asal usul Betawi Jakarta. Hal serupa Juga diungkapkan oleh beberapa Narasumber Dari Tokoh Budayawan Betawi pada saat diwawancarai .



Versi Cerita Terkait I
Asal orang Melayu Betawi. Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan masyarakat Melayu Betawi tersusun dan membangun pemukiman di pesisir river basin di 13 kali di kawasan yang oleh peta Ciela (abad ke-15) disebut Nusa Kelapa, yakni dari kali yang paling barat yaitu Cisadane sampai kali paling timur, Citarum.

Prof. James T. Collins, pakar linguistik Melayu Polinesia dari AS, dengan mengutip hasil penelitian Prof. Bern Nothofer yang juga pakar linguistik Melayu dari Universitas Frankfurt, menyimpulkan bahwa bahasa Melayu yang kini dipakai masyarakat Jakarta, Bangka, Palembang, Pontianak, dan Serawak serta bahasa yang masih kerabat Melayu seperti Iban, Kantuk, Kendayan, bukan berasal dari semenanjung Malaysia.

Dialek tersebut merupakan varian bahasa melayu Purba (Polinesia) yang berasal dari Kalimantan (Barat). Karena persebaran bahasa merupakan indikasi persebaran migrasi, diduga kuat migrasi bangsa melayu dari kalimantan itu terjadi sedikitnya pada Abad X.

Tidak begitu mudah menyimpulkan masyarakat Melayu Betawi berasal dari Kalimantan (Barat) semata-mata berpegang pada teori linguistik seperti yang dengan sangat mengagumkan diutarakan Collins dan Nothofer. Meskipun penamaan wilayah ini sebagai Nusa Kelapa mengindikasi kuat kekerabatan Melayu Polinesia (Barat) dari pada semenanjung, namun perlu pula dipertimbangkan cerita-cerita rakyat Melayu yang juga hidup di kalangan Melayu Betawi, misalnya cerita Bukit Siguntang.

Syahdan, Bukit Siguntang di Palembang merupakan asal leluhur Melayu. Nun di atas bukit disemayamkan Puteri Bunga Melur. Yang menarik dari rumah pemakaman Puteri Bunga Melur adalah pola arsitekturnya yang juga dapat ditemukan pada makam orang Betawi Melayu di Kranggan Bekasi.

Di samping itu, sebuah orkes Melayu yang amat terkenal di Jakarta dan Nusantara pada sekitar tahun 1950-1960 bernama OM Bukit Siguntang yang diimpin oleh seorang anak Melayu Betawi kelahiran Pecenongan, Abdul Khalik memberi indikasi orientasi Melayu Sumatera. Maka cerita tentang Bukit Siguntang menyiratkan jejak-jejak imperium Sriwijaya abad ke-7.

Dari dua arah pendekatan ini, kita mendapat petunjuk tentang asal orang Melayu Betawi yang boleh jadi datang dari Kalimantan (Barat), tetapi juga tidak tertutup kemungkinannya berasal dari Sumatera. Kemungkinan yang terakhir memunyai tingkat probabilitas yang tinggi apabila merujuk pada naskah kuno Wangsakerta (1667) yang menuturkan riwayat Aki Tirem pendiri kerajaan Salakanagara pada abad ke-2 M yang dikatakan berpoyangkan orang dari tanah Sumatera. Yang pasti, orang Melayu Betawi bukan berasal dar budak yang didatangkan VOC pada abad ke-17, sebagaimana secara fanatik sangat diyakini oleh seorang penulis amatiran buku gedung-gedung tua di Batavia, Adolf Heukeun.


Rumah Melayu Betawi

Pada mulanya rumah orang Melayu Betawi adalah rumah panggung yang bercirikan arsitektur Melayu, di mana pada atapnya terdapat lembayung. Ciri ini masih tampak pada rumah di Desa Cikedokan, Bekasi yang diduga didirikan oleh Pangeran Sake pada akhir abad ke-17. Posisi bala suji (tangga rumah) rumah Melayu Betawi berada di tengah (centris), berbeda halnya dengan Melayu Palembang yang menempatkan bala suji di tepi rumah.

Rumah-rumah ini berdiri di tepi sungai, karena pada mulanya sumber kehidupan terdapat di tepi sungai. Ketika persebaran penduduk merasuk ke pedalaman, pola rumah tepi sungai masih dipertahankan, yaitu berbentuk panggung dan sumur, serta kulem (kamar mandi) berada di depan rumah.

Pola rumah berarsitektur seperti ini masih terdapat di wilayah budaya Melayu Betawi seperti Cimanggis, Tigaraksa, Jatiwangi (Cibitung), Rawa Kalong, Cibinong. Bentuk rumah panggung itu untuk mengantisipasi banjir, dan lebih dari sekadar mengantisipasi hewan buas.

Rumah kebaya, rumah yang menjejak ke bumi, selanjutnya lebih disukai karena proses pembuatannya yang lebih sederhana, namun lantai dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah, sehingga bala suji sebagai unsur pendukung tetap dipertahankan.

Pada daerah gunung seperti Gunung Puteri yang masyarakatnya menggunakan bilingual Melayu Betawi dan Sunda, pola rumah panggung digunakan untuk bangunan suci. Penggunaan pola panggung di sini lebih bersifat sakral dari pada fungsional. Bangunan suci, baik pada tradisi pra Islam maupun Islam, cenderung berbentuk panggung mengikuti pola Bale Kambang, tempat peristirahatan raja dan keluarganya. Karena tempat ibadah Islam pada mulanya adalah Langgar Tinggi, seperti yang masih terdapat di Pekojan. Langgar Tinggi Pekojan sangat terkenal di samping Langgar Tinggi Pecenongan.

Kedua langgar tinggi itu merupakan pusat-pusat pergumulan intelektual Melayu Betawi. Dari langgar tinggi Pekojan lahir Sayyid Usman bin Yahya, penulis 50 judul buku agama Islam dalam bahasa Melayu Betawi, dan sastrawan Melayu Betawi Muhammad Bakir lahir dari Langar Tinggi Pecenongan. Keduanya meniti karir pada bagian akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Pola rumah panggung pada orang Melayu Betawi dengan demikian memunyai fungsi mengantisipasi banjir, mengandung makna sakral, dan sarana diskursus intelektual.
Bentuk rumah panggung bagi maasyarakat yang berdiam di Daerah Aliran Sungai (DAS) sangatlah berguna untuk menyelamatkan kehidupannya ketika datang musim hujan. Ke-13 aliran sungai tidak cukup menjadi saluran bagi datangnya bah, begitu juga ratusan "setu" dan rawa yang tersebar di seluruh kawasan Nusa Kelapa tidak berdaya menampung curah hujan yang begitu tinggi di daerah itu.


Tradisi pantangan dan Kuwalat


Tradisi Melayu Betawi sangat kuat mencegah pencemaran sungai. Sungai harus dijaga kesakralannya karena di dalam sungai itu bertahta sepasang siluman buaya putih. Mereka yang dimangsa buaya biasanya dianggap kuwalat karena melanggar pantangan untuk tidak mencemarkan sungai.

Sepasang buaya putih sang penunggu sungai marah dan si pelaku diterkam buaya. Untuk men­jaga jangan sampai buaya putih bangkit amarahnya, di samping berpantang membuang sampah ke sungai, juga ada waktu-watu tertentu orang Melayu Betawi "nyugu" ke sungai dengan membawa sajenan kembang tujuh rupa, telur ayam mentah, bekakak ayam, dan nasi kuning.

Sungai tidak boleh dicemarkan. Hanya saja karena terdapat pantangan membuang hajat di kebun, sementara teknologi pembuatan septic tank belum dikenal, maka mau tak mau sungai menjadi tempat pembuangan hajat. Justifikasinya, adalah tinja untuk pakan ikan. Di rawa tempat pembudidayaan ikan mas sering dibuat dangau untuk melepas hajat dengan tujuan memberi pakan kepada ikan itu.

Siluman buaya putih tampaknya maklum belaka, apabila ada orang Melayu Betawi membuang hajat di sungai, tetapi sampah tetap tidak bisa ditolerir. Tradisi menghormati sepasang buaya putih masih tercermin dalam adat perkawinan Melayu Betawi yang mengharuskan dalam pinangan pihak mempelai laki-laki membawa sepasang roti buaya. Roti dikenal setelah kedatangan bangsa Eropa, sebelumnya sepasang buaya putih sebagai antaran pengantin yang terbuat dari singkong.

Sampah harus ditabun, maka nabun atau membakar sampah merupakan kebiasaan orang Melayu Betawi membersihkan sampah tidak terbatas pada pekarangan rumah sendiri saja, melainkan juga sampah yang berserakan di jalan di depan rumah, dan sekelilingnya, menjadi tanggung jawab penghuni rumah terdekat.

Menebang pohon pun tidak boleh sembarangan, karena pada pohon-pohon kayu yang besar terdapat penunggu yang akan marah apabila pohon kayu itu ditebang secara sembarangan. Pantangan itu merupakan kendali sosial untuk menyelamatkan lingkungan dari bahaya banjir.

Rancag Keramat Karem dan Kapitein Beng Gan
Masnah, 75 tahun, adalah penyanyi gambang yang masih menguasai dengan baik ratusan pantun yang menceritakan tentang terbenamnya Kampung Kramat, Tangerang, akibat banjir. Banjir besar itu sebagai kejadian yang menyusul setelah meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Sungai-sungai yang mengalir di tubuh Tangerang tak kuasa menampung derasnya air hujan. Sebenarnya banjir juga melanda Jakarta. Banyak kampung-kampung yang terendam, mulai dari Marunda sampai Senen. Inilah banjir terbesar yang dialami oleh penduduk Jakarta dan sekitarnya.

Kisah banjir di Kampung Kramat tahun 1883 seperti disinggung di muka dituangkan dalam pantun yang dinyanyikan dalam bentuk gambang rancag. Kini hanya tinggal Masnah seorang yang mampu menyanyikan rancag Kramat Karem dalam irama phobin. Entah siapa yang menulis pantun itu, mungkin ia seorang seniman rakyat yang menjadi korban banjir.

Sebenarnya, tanpa ada gunung yang meletus, Jakarta menjadi rentan terhadap banjir, terutama setelah populasi penduduk bertambah besar. Adalah seorang Kapitein Cina bernama Phoa Beng Gan yang benar-benar gelisah akan adanya banjir yang sewaktu-waktu melanda Jakarta. Dia adalah seorang ahli saluran air dari Tiongkok yang mulai menjabat Kapitein orang Cina. Di Batavia sejak tangal 4 Maret 1645 menggantikan Kapiten Lim Lak.

Gubernur Van Diemen (1636-1645) sebagaimana GG sebelunnya tidak mengambil perduli terhadap persoalan banjir yang melanda Jakarta. banjir makanan inlanders.
Beng Gan sangat prihatin melihat air yang menggenangi rumah penduduk. Saban sore ia ajak sekretaris dan petani bangsa Cina berkeliling tempat dan membuat peta banjir. Beng Gan lantas mengundang penduduk Cina untuk mengambil kata mufakat membangun saluran. Yang kaya menyumbang uang, sedangkan yang miskin menyumbang tenaga.

Saluran air dibuat bergotong royong. Menurut Beng Gan, biang kerok banjir adalah tidak adanya saluran air ke laut. Tetapi, saluran yang baru dibuatnya ini ternyata berguna cuma di musim hujan. Penduduk bergembira jika musim hujan tiba, sebaliknya, jika musim panas datang, maka saluran buatan Beng Gan ini kering kerontang.

Beng Gan berpikir keras bagaimana memanfaatkan air kali Ciliwung yang mengalir melintas kampung Pejambon. Arusnya besar, tetapi sayang mengalir langsung ke laut dengan rute berbelok di daerah yang kemudian disebut Pasar Baru, Gunung Sari, sampai di Ancol, lalu bermuara ke laut.

Dari tempat yang kelak bernama Harmoni, atau kampung Jaga Monyet, terus ke arah utara digali saluran air yang kemudian menjadi kali sodetan yang diberi nama Molenvliet atau Kali Penggilingan Obat Pasang. Begitu proyek selesai, penduduk bukan main girangnya. Atas jasanya itu, Phoa Beng Gan yang oleh lidah Belanda disebut Bingam diberi persenan tanah di bilangan Tanah Abang. Beng Gan kemudian melebarkan kali Tanah Abang, dan sekitar ini ia mendirikan tempat pembakaran kapur yang menjadi miliknya. Beng Gan adalah contoh orang berpangkat yang perduli dengan kesulitan yang dihadapi rakyat banyak.


Banjir dan Budaya Masa Kini

Adat Melayu Betawi mungkin tidak banyak lagi yang relevan untuk mengantisipasi banjir, mengingat perkembangan populasi dan modernisasi masyarakat. Usaha mengantisipasi banjir dengan pendekatan budaya kian sulit dilakukan, dengan sulitnya mendapatkan seorang pejabat yang berjiwa seperti Beng Gan pada masa kini.
Banjir menjadi "takdir" yang tak terelakkan, pembesar provinsi pun lantas memanipulasi sejarah dengan mengatakan bahwa banjir sudah ada sejak zaman Nabi Nuh tanpa mengkaji kebudayaan masyarakat pada masa lalu dalam usahanya mengatasi banjir.

Kini hukum menggeser adat. Mengamankan lingkungan tak dapat lagi dilakukan dengan cara adat melainkan hukum. Namun, tentunya hukum dengan konsekuen harus dijalankan.

Larangan membuang sampah di kali harus diikuti dengan sanksi bagi barang siapa yang melanggarnya. Begitu pun dengan larangan membuang limbah pabrik di kali. Mendirikan rumah di bantaran kali harus tegas dilarang, dan yang melanggar ditindak, serta dalam saat yang bersamaan juga harus ditindak pengusaha real estate yang mendirikan apartemen di atas kali.

Menebang pohon tidak boleh dilakukan sembarangan kendati di pekarangan sendiri. Di zaman Belanda, orang harus melaporkan kepada pejabat setempat apabila ia mau menebang pohon di pekarangan atau kebunnya. Jika pejabat itu melarang, maka penebangan pohon tak boleh dilakukan.

Harus dengan tegas ditindak barang siapa yang menutup "setu", atau daerah resapan air lainnya, termasuk hutan lindung kota. Jika hukum tidak diberlakukan dengan tegas, tanpa pandang bulu, maka lagi-lagi kita akan berbicara tentang "takdir", apabila banjir tiba tanpa adanya "ikhtiar".

(Penulis adalah tokoh Betawi, budayawan dan juga Ketua "Steering Committee" Kongres Kebudayaan Oktober 2003)




Versi Cerita Terkait II


" Melayu " itu berasal dari mana ?, kemudian Siapa saja yang disebut Melayu ?, Apa ketentuannya ?
 Jika Melayu merujuk kepada Ras atau Bangsa maka Melayu bukan saja milik Melayu Islam (sekarang) tetapi juga Melayu Kristen atau Animisme.Sama seperti Bangsa Arab ada Arab Islam dan juga ada Arab Kristen.

Setahu saya perkataan Melayu itu mulanya berasal dari kata "Mo Lui Ya" sebutan bahasa salah satu suku di China yang artinya " Tidak Memiliki Uang ". Sebenarnya nama itu hanya gelaran saja untuk menunjuk identitas orang nusantara (Karena Pada saat Zaman dahulu Orang Di Nusantara Belum Mengenal Uang Sebagai Alat Transaksi dalam Berdagang dan Memenuhi Kebutuhan , Sehingga Barterlah cara berdagang yang lazim).

Sebutan tersebut semakin lama semakin digunakan dan semakin menyebar dengan perubahan dialeg dalam kurun waktu tertentu sehingga berubah huruf menjadi "Me La Yu".

Lidah orang nusantara tentu berbeda dengan orang China sehingga perubahan bunyi tersebut sangat memungkinkan terjadi. Kalau tidak salah ada artikel yang menguatkan pengertian tersebut dimana dahulu memang pernah terjadi perdagangan antara China dengan orang nusantara dengan cara barter.

Karena orang nusantara kaya akan sumber alam namun belum mengenal uang maka disebutlah bahwa orang nusantara adalah orang yang tak punya uang tetapi punya kekayaan alam seperti dupa, damar, kemenyan, emas, kayu, karet, gula alami dan lain sebagainya sehingga inilah yang menarik minat bangsa China untuk berdagang dengan orang nusantara.

Kegiatan perdagangan antara orang nusantara dengan China tampak lebih besar ke arah Kalimantan Barat masa itu sampai-sampai terbentuklah sebuah Republik tertua di dunia jauh sebelum berdirinya Amerika Serikat yakni Republik Lanfang di Monterado , Kalimantan Barat.
Di Kalbar ada bahasa Melayu yang sangat mirip dengan bahasa Betawi yakni Bahasa Melayu Sambas. Sementara bahasa Melayu Sambas sangat mirip dengan Bahasa Dayak Banyuke. Apakah mungkin Bahasa Melayu Sambas merupakan turunan dari Bahasa Dayak Banyuke dan Bahasa Melayu Betawi merupakan turunan dari Bahasa Melayu Sambas ?, bisa saja jika merujuk kepada hasil penelitian James T Collins yang mengatakan bahwa Kalimantan (Barat) merupakan tanah asal usul resam bahasa Melayu.

Bicara soal Melayu, kebanyakan kita semua salah faham sebab Melayu itu sendiri ada dua pengertian :


- Pertama, Melayu dalam arti Ras dimana ada banyak suku di nusantara yang tergolong dalam satu ras Melayu namun dalam Ras Melayu itu dia punya penamaan sendiri-sendiri. Dalam suatu ras tersebut agamanya pun bisa bermacam-macam ada yang Islam dan ada yang Kristen ada pula Hindu, Budha dan Kaharingan.


- Kedua, Melayu dalam arti suku. Melayu dalam arti suku inilah yng disebut Melayu saat ini dimana mayoritas mereka beragama Islam namun tidak berarti ras Melayu adalah suku Melayu. Mengapa? sebab jika merujuk definisi Melayu menurut negara Malaysia adalah: Yang disebut Melayu adalah orang yang beragama Islam, menggunakan adat istiadat Melayu dan berbahasa Melayu. Jadi Melayu dalam arti suku adalah perpaduan antara budaya ras Melayu dengan Agama Islam.

 Jadi pemahaman kita harus kita buka seluas-luasnya dan jangan memahami Melayu dalam artian sempit sebab akan membutakan mata kita nantinya.

 Kedatangan Melayu Betawi di tanah Barat Jawa sangat dimungkinkan adanya hubungan dagang antara bangsa China dengan ras Melayu di nusantara termasuk Kalimantan dan Sumatera. Berkenaan dengan kemiripan bahasa Melayu Betawi dengan Melayu Sambas bisa saja di jaman perdagangan barter dahulu bangsa China yang telah lebih dahulu berada di Sambas membawa serta para pekerjanya menuju tanah Jawa khususnya di tepi Barat pulau Jawa. Interaksi antara orang China dan Melayu Sambas saat itu cukup baik sehingga memungkinkan adanya kerjasama keduanya sehingga melahirkan suatu wilayah dagang baru di bagian Barat pulau Jawa yng dikenal di jaman Belanda dengan sebutan Batavia. Kejadian ini bukanlah di jaman VOC tetapi jauh sebelumnya.

 Keberadaan orang Sambas dan China di tanah Batavia berlangsung berabad-abad sebelum belanda menaklukan wilayah tersebut. Adanya kesamaan cerita antara Bukit Siguntang di Sumatera dengan budaya Betawi adalah sangat wajar sebab antara Sumatera dan Jawa emiliki pulau yang snagat berdekatan sehingga mobilitas penduduk di kedua pulau tersebut sangat mudah dan dekat sehingga interaksi kisah dan legenda dari Sumatera lebih dominan masuk karena setelahnya kedatangan orang Melayu Sumatera di Betawi justeru semakin banyak.

 Soal bahasa, mengapa jika orang Sumatera yang lebih banyak datang kok menggunakan bahasa Betawi ?, Hal itu disebabkan oleh lebih dulunya orang Sambas bermukim disana dan telah lebih dahulu menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa lingua franca sehingga kelompok lain mau tidak mau mengikuti apalagi ada kemiripan antara kedua bahasa tersebut antara bahasa Melayu Sambas dengan Bahasa Melayu Sumatera.

 Percampuran bahasa antara tiga etnis yakni Melayu Sambas, China (suku Hoklo) dan Melayu Sumatera tersebutlah menjadikan bahasa Betawi memiliki identitas tersendiri. Hal itu bisa dilihat dari penggunaan bahasa serapan yang masuk dalam unsur bahasa Betawi seperti engkong (kakek), Cici (bibi), Koko (abang), cepek (seratus rupiah), Ceban (10.000) Goceng, Gue (Oe yg artinya saya), Lu (Le yang artinya kamu) dan sebagainya. Itu unsur bahasa China yang telah mempengaruhi bahasa Betawi ratusan tahun sebelum VOC datang. Sementara itu bahasa Melayu Sambas sangat besar mempengaruhi Bahasa Betawi, hampir seluruh kosa kata dalam bahasa Betawi berakhiran E (jelas) seperti pada kata " KemanE", ApE dan sebagainya.

Agak aneh memang dan janggal rasanya ketika ada sebuah kawasan yang disebut sebagai Melayu berada di tanah Jawa. Betawi adalah satu-satunya suku ras Melayu yang mendiami pantai Barat tanah Jawa dan selebihnya bukan disebut Melayu.

Menurut saya bukan soal Melayu Betawi berasal dari mana tetapi mungkin akan lebih baik ada penelitian sejarah tentang "Siapa Melayu Betawi". Bagaimana bisa berada di Bagian Barat Tanah Jawa ?

Jadi untuk menarik benang merahnya maka perlu ditelusuri dulu mulai dari kata "Melayu" kemudian "China bekerjasama dengan siapa dan wilayah mana pertama kali" kemudian "Apakah ada hubungan kerjasama antara China dengan Bangsa Melayu dan membawa mereka sebagai tenaga kerja menuju Batavia ?"

Jika merujuk kepada penilitian James T Collins disebutkan bahwa Hubungan dagang antara China dengan Kalbar sudah terjadi sebelum adanya Kerajaan Sriwijaya.

Mungkin cukup sampai disini dulu , Semoga pemahaman kita semua semakin lebar terbuka.



Source :
- Mata Najwa, Metro TV.
- Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
- Collins, James T.. 2005. Bahasa Melayu Bahasa Dunia: Sejarah Singkat (Alih bahasa Alma Evita Almanar).
- Google.com
Labels: SEJARAH

BETAWI JAKARTA BERASAL DARI MELAYU SAMBAS

Back To Top